Belum lama kita mendengar ada Pejabat Tinggi Negara yang kebetulan Non Muslim meng-umrohkan marbot2 Masjid d Wilayah DKI, bukan hanya itu bahkan ia menyisihkan gajinya setiap bulan sebanyak 2,5% untuk ZIS (Zakat,Infaq,Sodaqoh).Ada juga Pejabat Non Muslim lain yang menjabat Lurah dilasah satu wilayah DKI/Depok pada tiap Idhul Adha ikut berkorban sapi dan kambing.
Amal2 baik pejabat ini boleh jadi lebih banyak dari pada kita yang muslim dan terkesan mulia.
Bagaimana jawaban Allah SWT terhadap amal2 baik orang2 kafir ini?Allah SWT berfirman:
"Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya,amalan-amalan (baik) mereka adalah seperti debu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang".(QS.Ibrahim: 18).
"Dan,orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar,yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga,tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinya sesuatu apapun".(QS.An-Nur:39).
"Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan"(QS.Al-Furqan: 23).
Saudaraku,lihatlah Allah SWT tidak menghargai sama sekali amal-amal baik hamba-Nya yang tidak beriman kepada-Nya walau sebanyak memenuhi bumi ini.Menyekutukan Allah/kafir adalah sebesar-besar kezaliman."...sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."(QS.Luqman: 13).
Jadi syarat diterimanya amal seseorang adalah Iman.Orang-orang yang tidak beriman kepada Allah,melakukan berbagai aktifitas tanpa mengharap keridhaan Allah,mereka tak merasa takut akan azab-Nya.Karenanya,mereka tidak berhak mendapatkan pahala,mereka beramal tidak diniatkan untuk menggapai ridha-Nya.
Beberapa kalangan yang terpikat dengan ekspresi lahir dunia berkata, "Bagaimana bisa Allah tidak memberikan pahala kepada ilmuwan yang menemukan listrik, handphone, komputer, obat2an dan dokter yang menolong, mengobati pasien? Apakah lantas Allah tidak mengganjar perbuatan mereka semua ini?Dan, disisi lain orang yang ber-i'tikaf di Masjid yang tidak menyumbangkan karya sedikitpun bagi kemanusiaan diberi pahala dan masuk syurga,sedangkan para ilmuwan diatas masuk neraka, apakah ini adil?".
Ini adalah keberatan yang sering diajukan, seakan akan mereka ingin mengatakan,"Sepanjang anda melakukan kebaikan dan berbuat baik kepada Allah,maka Allah akan menerima amal dan perbuatan anda serta mengganjarnya."
Demikianlah, mereka mengkondisikan pahala dan siksa sesuai dengan tolok ukur hawa nafsu mereka, lalu mereka hendak menetapkannya pada Allah.
Untuk menjawabnya,saya akan membuat perumpamaan agar mudah dicerna :
"Seorang pria memasuki kebun besar yang bukan miliknya.Di kebun itu, ia menemukan berbagai macam buah-buahan dan hidangan. Tanpa fikir panjang ia memakan dan meminumnya.Kemudian ia melakukan aktifitas didalamnya, pohon ini ia tebang sedangkan pohon yang lain ia tanam, dinding sebelah sini ia robohkan dan lubang sebelah sana ia tutup, dan jalan-jalan setapak ia rubah. Kemudian ada pria lain yang memasuki kebun itu, ia berkata dalam hati, "Saya tidak akan berbuat apa-apa sampai saya berhubungan dengan pemilik kebun ini atau wakilnya". Kemudian ia mencari-cari hingga bertemu dengan wakil pemilik kebun. Wakil ini mengecam perbuatan pria yang pertama, namun pria tersebut mengabaikannya dan bertindak di kebun itu semaunya tanpa seizin pemiliknya. Sedangkan, pria kedua mendengarkan arahan dari wakil pemilik kebun dan berbuat sesuai dengan arahan itu. Maka, siapakah yang berhak mendapatkan balasan?".
Apakah orang yang masuk ke dalam kebun tanpa mendapatkan izin dari pemilik kebun dan mengabaikan arahan pemilik kebun (melalui wakilnya) berhak mendapatkan balasan,meskipun ia melakukan perbuatan baik di kebun itu? Tak diragukan bahwa setiap orang yang berakal akan berkata, "Balasan hanya diperuntukkan bagi orang yang mengikuti petunjuk dan arahan pemilik kebun.
Dan, yang menerobos masuk serta berbuat semaunya tanpa kerelaan pemiliknya, meskipun sudah diingatkan, maka tentu ia tidak berhak mendapatkan balasan yang baik,walau ia kadang berbuat baik, bahkan ia harus dihukum".
Demikian pula, bumi seisinya adalah milik Allah dan para rasul-Nya adalah para wakil-Nya. Sedangkan orang mukmin adalah orang yang berbuat selaras dengan petunjuk Tuhannya dan orang kafir adalah orang yang berbuat tanpa izin dan petunjuk Tuhannya.
Allah SWT berfirman:
" Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan."(QS.Hud : 15).
" Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan."(QS.Hud : 16).

0 komentar:
Posting Komentar